Darahmu, Darahku, Darah Kita

Sepercik cairan merah mengisi tubuh yang letih ini
Lemah dan tak berdaya
Tersiksa karenamu, karena mesin beroda empat yang menabrakku
Seperti aku berada di surga

Putih.. Putih dan Putih..
Tertidur aku diatas awan yang beralaskan cairan merah
Di mana aku?
Kedua tangan mempelaiku, mengangkatku dan meraba-rabaku

Aku bergerak! Aku bergerak!
Terbangun aku, bersanding sesosok samar paras wanita cantik yang tertidur lelap
Jarum lancip menusuk kulitku
Merasukiku dan membawaku kembali ke surga

Nak?
Merdu Suaranya
Kelopak mata mengil ini perlahan membuka
Kabur..
Samar..
Jelas..

Apa ini?
Batinku memberontak
Selang cairan merah di tanganku
Topeng polos, bingung, linglung terpakai di wajahku

Hingga datang seorang suster memberitahuku
Di mana? Di mana dia?
Kaget!
Itu yang terlihat di topeng suster itu

Dia telah pergi
Mulia jasanya, tak meninggalkan apa-apa
Tak meminta apa-apa
Dia hanya meninggalkan cairan yang mengalir di tubuhmu
Dan dia hanya meminta, rawat dan jagalah cairan merah di sekujur aliran tubuhmu

Oleh : Yosephine Ika Adikawati