Anak-anak di Balik Jeruji Besi

“Saya waktu itu ingin bantu anak itu, tapi saya takut. Saya pasti dihajar kepala kamar dan teman-teman satu sel kalau berani membantu anak itu. Saya tak sanggup memandang anak itu. Saya berusaha tidur, tapi suara kesakitan anak itu masih saja terdengar,”

Begitulah ujar seorang anak yang menceritakan pengalaman pertamanya di penjara anak. Seperti yang diucapnya, penjara anak seolah berisikan kumpulan orang kejam yang menyiksa para tahanan baik secara fisik maupun psikis. Begitulah potret kehidupan mereka (tahanan anak) semenjak masuk penjara anak karena berurusan dengan hukum. Setiap malam tidur dalam tekanan batin atas mental pressure yang dilakukan oleh penjaga kamar tahanan yang konon segalak sipir di film Ayat-Ayat Cinta arahan sutradara Hanung Bramantyo yang terkenal itu.

Melihat kondisi penjara anak yang seperti ini, tentu banyak hal yang harus dievaluasi dan diperbaiki.

Sisi Kemanusiaan
Rata-rata di mata anak-anak yang dipenjarakan di sana, penjara anak adalah hal yang mengerikan, petugas yang menyiksa setiap ada kesempatan, petugas yang selalu saja mencari kesalahan walaupun mereka sudah melakukan apa yang dimaksudkan kepada mereka, fasilitas yang sangat jauh dari kata memadai, dan pelecehan yang kadang menyebabkan trauma. Coba anda bayangkan betapa kontrasnya hal yang mereka alami dengan suasana yang seharusnya mereka rasakan di penjara anak yang sebenarnya (sesuai standar dan fungsinya). Menurut Saya, penjara anak bukanlah tempat untuk menyiksa anak yang pernah melakukan kesalahan di masa lalunya atau yang pernah berurusan dengan hukum, penjara anak adalah tempat untuk membina anak-yang bermasalah tersebut untuk selanjutnya membentuk pribadi mereka menjadi lebih baik dari saat mereka masuk penjara tersebut.

Dengan sistem penjara anak di Indonesia yang sekarang ini sudah pasti tujuan utama dibangunnya penjara anak tidak akan tercapai. Lingkungan yang tidak sehat untuk anak yang seharusnya mendapat perhatian dan diajak secara halus agar menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagai gambaran saja, LP Anak Tangerang yang kapasitasnya maksimalnya 220 orang terpaksa diisi lebih dari 300 anak, dan kamar penjara yang berukuran 1 x 1,5 meter yang idealnya diisi hanya 1 anak bisa diisi oleh 3 anak. Untuk makan, mereka diberi jatah sekitar Rp 4.500,- per hari. Kesehatan juga salah satu aspek yang diabaikan di dalam penjara anak. Pasalnya, banyak penjara anak yang tidak memiliki dokter dan psikolog bagi tahanan mereka.

Konsep yang Salah
Suasana penjara yang tak ramah, kaku, dan konsep pemisahan akan membuat anak mempersalahkan dirinya sendiri dan berujung pada menurunnya motivasi anak untuk berubah. Realita semacam ini harus diubah agar hak asasi anak untuk mendapat kebebasan berekspresi dapat dipenuhi, dan fungsi penjara anak berjalan dengan semestinya.

Petugas yang ”garang” dapat membuat anak merasa tertekan mentalnya. Misalkan saja, seorang anak yang hanya lewat di depan petugas dimarahi tanpa alasan lalu dipukul.

Hubungan antara tahanan di bawah umur dengan aparat penjara anak yang kaku juga berakibat buruk bagi sosialisasi anak tersebut. Tidak hanya petugas, tahanan yang umurnya relatif lebih tua dari yang lain pun menindas anak-anak yang lebih muda dari mereka. Penindasan ini biasanya berupa ancaman. pengeroyokan, pelecehan seksual, serta menjadikan tahanan lain yang lebih muda sebagai suruhan mereka secara paksa.

Solusi Konkrit
Peranan YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) sebagai lembaga yang memiliki ”suara” yang lebih dalam masalah yang dihadapi anak ini juga sangat vital bagi berlangsungnya fungsi sebenarnya penjara anak itu sendiri. Inisiasi yang dilakukan YKAI untuk mengadakan seminar tentang Implementasi UU No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak kaitannya dengan UU No.23 Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak. Seminar semacam ini juga dapat membuka mata masyarakat akan rumitnya masalah yang dihadapi anak di bawah umur yang bersangkutan dengan masalah hukum, sehingga bermunculan gagasan-gagasan untuk mengatasinya.

Saya juga mendukung langkah Presiden SBY yang mengembangkan sistem pembagian tugas tentang perlindungan anak dari yang semula hanya tugas Depsos menjadi tugas Depsos bersama Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Selain itu, terkait fasilitas yang akan disediakan oleh penjara anak akan selangkah lebih maju dengan pengajuan alokasi dana sekitar 1 triliun terkait biaya pemeliharaan lapas pada RAPBNP 2010.

Untuk menunjang hal itu, dibutuhkan adanya petugas yang berperan sebagai pendamping khusus anak dalam menjalani masa tahanannya di penjara anak. Pembangunan penjara anak pun kalau bisa dibuat tidak seseram penjara anak pada umumnya. Selain itu kebutuhan anak yang perlu untuk dipenuhi akan lebih baik jika pemenuhannya dapat dengan segera direalisasikan.

Kesimpulan
Penjara anak merupakan fasilitas yang disediakan pemerintah untuk membina anak-anak yang berurusan dengan hukum, namun belum cukup umur untuk ditempatkan di penjara umum.

Dalam realita, pelaksanaan penjara anak sebagai sarana pembentuk pribadi yang luhur ini tak sesuai dengan konsep. Konsep yang dijalankan di Indonesia sangat tidak layak, sangat tidak sesuai dengan kondisi fisik serta psikologis anak yang notabene masih membutuhkan perhatian.

Kesalahan konsep penjara anak yang terjadi di Indonesia merata di berbagai lini. Mulai dari fasilitas yang tidak memadai, hingga personalitas serta profesionalitas petugas penjara anak yang jauh dari kata layak sebagai petugas sosial yang berhubungan langsung dengan anak-anak.

Sumbangsih masyarakat akan solusi dari masalah ini juga dibutuhkan oleh pemerintah agar konsep penjara anak yang tidak tepat ini bisa diperbaiki.

Pembangunan penjara anak hendaknya dilaksanakan sesuai fungsi utama yaitu sebagai sarana yang harus sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Jadi, kesimpulan akhir yang dapat kita tarik adalah diperlukannya kerja sama antara masyarakat dan lembaga yang mengurusi masalah pembinaan terhadap anak yang mengalami masalah yang kaitannya dengan hukum. Selain itu, kita sebagai anak, patut dan selayaknya untuk tetap mengikuti segala peraturan yang ada. Kita harus tetap mengerti apa yang menjadi hak dan kewajiban kita sebagai anak sabagai langkah preventif agar tidak berurusan dengan hukum dan masuk penjara anak dan memperoleh perlakuan yang tidak pantas seperti apa yang saya bilang di atas.